Showing posts with label Musik klasik. Show all posts
Showing posts with label Musik klasik. Show all posts

Wednesday, 5 January 2011

Musik Klasik Mozart Meracuni Otak Bayi


1290699014150127078 
Magic Flute Mozart
Belakangan, karena berbagai langkah penemuan mengenai perkembangan bayi pada tahap awal perkembangan hingga pada masa pertumbuhan dianjurkanlah berbagai tips stimulansia bagi kecerdasan anak. Salah satu yang sering digembar-gemborkan adalah penggunaan musik-musik klasik untuk merangsang sel-sel neuron pada janin. Alasannya, karena musik klasik dapat membuat perasaan bayi tersentuh sehingga akan mempengaruhi prilaku bayi dikemudian hari.

Lalu bagaimana jika ternyata perilaku bayi tersebut setelah besar menjadi seorang yang tidak beradab? Kenapa demikian? Karena otaknya telah teracuni oleh gelombang suara dari Magic Flute orchestra Mozart. Mungkin ketika anda membaca pernyataan ini, seketika anda akan mengerutkan dahi dengan sedikit pertanyaan atau mosi tidak percaya yang besar, namun pengaruh satanik pada karya Mozart tidak dapat ditutup-tutupi lagi.

Menurut psikolog perkembangan Harold I Kaplan, Benjamin J Sadock, dan Jack A Grebb, menstimulasi otak bayi bisa dilakukan sejak usia 18-20 minggu kehamilan. Oleh sebab itu, bayi yang belum lahir sekalipun mulai bereaksi terhadap rangsangan dari luar. Sementara berdasarkan teori psikogenesis, otak bayi melesat pada usia trimester kedua. Maka, bayi bisa mengingat situasi yang dialami oleh sang ibu. Contohnya, ibu kandung melakukan hal yang kurang baik saat hamil seperti berkata kasar. Maka, meski kelak si bayi tidak dirawat oleh ibu kandungnya dikarenakan sang ibu meninggal dia tetap bisa berkata kasar karena mengingat apa yang dilakukan ibunya selama mengandungnya.

1290699306174422605
bayi dalam kandungan
Secara alamiah, saat bayi mendengar suara ibunya, maka denyut jantungnya bergerak aktif. Namun, begitu mendengar suara orang lain, ritme jantungnya melambat. Saat ritmenya menjadi aktif, bayi pun menyimpan kata-kata yang diucapkan oleh sang ibu dalam memorinya. Inilah yang disebut stimulasi kognitif. Pada saat ini pula perasaan emosional bayi mulai tumbuh, maka disinilah peluang untuk mulai menanamkan ideologi menyimpang pada penerus generasi kita dimulai, yaitu dengan mencekoki janin-janin dengan ritual masonik.

Lingkungan tempat di mana bayi dibesarkan sangat mempengaruhi perkembangan otaknya. Pada tahun pertama dalam kehidupan bayi , sistem otak mulai terbentuk dengan cepat. Aktivitas otak sudah mulai membentuk hubungan elektrik yang sangat kecil dan sering disebut sinapses dan beberapa rangsangan dapat menstimulasi sinapses ini. Hingga periode ini perlakuan memperdengarkan musik klasik dianjurkan, tak terkecuali dengan poera karya Mozart.

Mungkin, pada saat bayi tumbuh menjadi balita ia adalah makhluk yang lucu dan menggemaskan. Segala kelakuan nakalnya dapat dimaklumi, namun bagaimana jika kelakuan nakal itu menjadi bom waktu yang siap menjadi Hitler baru, Stalin baru dengan budaya radikalismenya ketika bayi telah menjadi makhluk dewasa? Karena memori atheisme atau komunisme telah tertanam layaknya sebuah chip yang ditanamkan pada otak bayi yang menjadi memori dasar seperti sebuah motherboard pada komputer.

Sudikah anda jika anak anda menjadi pemuja setan atau berkelakuan sekejam Hitler? Jika anda tidak ingin demikian, maka jauhkan telinga janin anda dari toksifikasi (peracunan) musik klasik semacam Magic Flute.
Masonry telah menjadi salah satu fenomena paling menarik pada dua abad terakhir. Dengan mudah, Masonry menarik peminat karena karakternya yang tertutup, eksklusif, dan mistis. Berbagai indikasi Masonry telah terkorelasi dengan berbagai aktifitas, mulai dari pergerakan renassaince, propaganda Nazisme, ideologi komunisme ala Karl Marx yang pernah menggoyang Indonesia dengan pemberontakan 30 Septembernya hingga sentuhan musik para musisi, tak terkecuali Mozart.

Suling Ajaib (Magic Flute/ Die Zauberflote) adalah sebuah opera dari sekian banyak karya komposer terkenal, Wolfgang Amadeus Mozart. Mozart adalah seorang anggota Freemason sejak tahun 1784. Merupakan sebuah fakta yang diakui bahwa banyak bagian dari operanya mengandung pesan-pesan Masonik. Yang menarik, pesan-pesan Masonik ini sangat erat berhubungan dengan budaya masonik pada jaman Mesir Kuno.
Suling ajaib dipengaruhi oleh filosofi illuminati. Kepercayaan illuminati beranggapan bahwa pendidikan umat manusia harus terus berkembang dari kekacauan doktrin agama yang bersifat takhayul. Gerakan mason sebagai illumination (pencerah) harus merubahnya dengan pencerahan yang rasionalistik melalui percobaan dan kesalahan (Try and error). Hasil akhir gerakan ini adalah membuat “Bumi sebagai suatu kerajaan surgawi, dan manusia sebagai dewanya.” Dalam artian mudah paham masonik menilai agama adalah omong kosong dan manusia adalah Tuhan yang sesungguhnya. Pesan ini secara implisit telah digambarkan juga dalam lagu John Lennon yang sering terdengar sebagai theme song bencana, yaitu lagu “Imagine.”

Freemason menggunakan musik dalam upacara mereka dan mengadopsi pandangan humanis Rosseau tentang arti musik. LF Lenz menyebutkan dalam edisi kontemporer lagu Masonik “Tujuan musik dalam upacara-upacara Masonik adalah menyebarkan pikiran-pikiran yang baik dan kesatuan di antara anggota masonry sehingga mereka mungkin bersatu dalam gagasan tak bersalah dan suka cita.” Musik harus “menanamkan rasa kemanusiaan, kebijaksanaan dan kesabaran, kebajikan dan kejujuran, loyalitas kepada teman, dan akhirnya pemahaman tentang kebebasan.” Pada kenyataannya hal ini adalah cikal-bakal komunisme dan atheisme yang justru telah menimbulkan petaka dalam sejarahnya. Lalu bagaimana mungkin komposisi musik dengan awal tiga ketukan ini kita suguhkan pada bayi-bayi kita yang masih bersih dan belum terkontaminasi radikalisme ideologi komunis?

129069946642457900
sampel darah saat berdoa
Pada dasarnya berbagai aktifitas suara dapat pula mempengaruhi darah, seperti yang pernah diungkapkan oleh sebuah penelitian dilakukan oleh pakar EFT untuk menunjukkan bagaimana kondisi darah manusia disaat normal, sedih, gembira, jatuh cinta dan saat berdoa. Dalam penelitian tersebut, sampel darah setelah berdoa berbeda sama sekali dengan yang lain, cairah darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan.

Lalu bagaimana jika manusia diperdengarkan gelombang suara untuk memuja setan atau menanamkan paham atheisme seperti opera milik Mozart pada bayi anda? Sedangkan rasa takut dan memikirkan kejadian menakutkan saja telah membuat sel-sel dalam darah bergerak tidak beraturan dengan sangat cepat.

1290699667504865832
darah di saat takut
Mozart dengan operanya bukanlah satu-satunya wujud toksifikasi ideologi pada manusia. Karya John Lennon atau bahkan yang terbaru adalah Josh Groban dengan album barunya “Illuminations” akan membawa pemahaman pencerahan model illuminati atheisme dalam note dan suspensi nada. Ada baiknya anda lebih mempercayakan doa dari bibir anda sebagai ibu atau yang terucap dari lidah istri anda daripada mempercayakan nasib bayi anda pada musik klasik Mozart yang akan membuat bayi anda mungkin menjadi Hitler baru atau Stalin generasi baru.

 Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/11/25/musik-klasik-mozart-meracuni-otak-bayi/

Salam my blog

Ternyata Musik klasik tidak berpengaruh terhadap otak

JERMAN (Berita SuaraMedia) – Berdasarkan riset terbaru, tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung apa yang disebut “efek Mozart”, yang menghubungkan musik klasik Mozart dengan kemampuan kognitif.
Seperti diberitakan oleh HealthDay News, suatu penelitian telah memperdebatkan sekaligus mematahkan hasil riset terdahulu yang memperlihatkan hubungan antara mendengarkan musik Mozart dan peningkatan kemampuan otak.
Hasil studi pada 1993 yang diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan bahwa mendengarkan musik Mozart akan meningkatkan kemampuan kognitif. Alhasil, riset ini lalu memicu para orangtua untuk memperkenalkan bayi dan anak kecilnya pada musik klasik, serta pengusaha berlomba menjualnya ke berbagai sekolah, pusat perawatan siang hari dan orangtua.
Namun, hasil kajian terbaru para ilmuwan Austria tidak menemukan bukti signifikan kalau mendengarkan musik Mozart memberi pengaruh pada kemampuan kognitif seseorang.
Dalam studi paling mutakhir itu, para peneliti di University of Vienna mengkaji lebih dari 40 studi dan penelitian yang tak disiarkan yang meliputi lebih dari 3.000 subyek. Kesimpulan mereka adalah tidak ada riset yang mendukung pendapat bahwa musik Mozart meningkatkan kemampuan otak anak.
Secara khusus, temuan itu membantah mitos mengenai dampak peningkatan kemampuan otak di antara pendengar musik Mozart.  Para peneliti melaporkan bahwa mereka tak dapat mengonfirmasi dampak menguntungkan dari mendengarkan musik Mozart.
“Saya menyarankan mendengarkan musik Mozart kepada setiap orang, tetapi ini tak memenuhi harapan akan peningkatan kemampuan kognitif,” kata penulis studi itu, Jakob Pietschnig, ahli ilmu jiwa di University of Vienna.
Tim peneliti dari Universitas Vienna meneliti ulang 3 ribu kasus dari 40 studi internasional yang menyimpulan tidak ada bukti efek dari Mozart.
“Siapapun yang mendengarkan musik baik Mozart, Bach tidak lebih baik dari grup yang tidak. Tetapi kami mengetahui bahwa orang akan memiliki performa yang baik jika mereka memperoleh stimulus,” ujar peneliti utama Jakob Pietsching.
Riset tidak mengatakan musik tidak berdampak pada pengembangan otak, namun pendengar pasif tidak memiliki keuntungan yang masuk di akal seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Sementara studi lainnya menyarankan bahwa proses kreatif, analitis dan aktivitas fisik terlibat dalam pembelajaran yang mampu mempengaruhi fungsi kognitif dan otak.
Satu studi longitudinal menemukan bahwa anak-anak yang menerima rangsangan musik tidak selalu akan memiliki kemampuan bermusik, juga kemampuan lain termasuk tata bahasa atau logika matematika.
Studi tersebut memeriksa rangsangan dan pelatihan musik dan analisis terbaru memberikan kesimpulan bahwa tidak ada keuntungan kognitif yang ditawarkan.
Anda selalu memperdengarkan musik klasik untuk bayi anda atau calon bayi anda agar mereka memiliki kemampuan kognitif yang hebat?  Pikirkan lagi!  Sebab berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan Austria, mereka tidak menemukan adanya pengaruh yang signifikan musik klasik Mozart dengan kemampuan kognitif bayi
 Sumber: http://goligog.wordpress.com/2010/09/28/ternyata-musik-klasik-tak-berpengaruh-pada-kecerdasan-otak/

Salam my blog